Hari ini, kusempatkan bercakap dengan ibu.
Karena suara itu telah membuatku rindu.
Hari ini, kabar gembira hadir.
Rumah kami kembali berdiri.
Setelah gempa bumi mengoyak kegagahannya.
Suara-suara tukang bangunan di kejauhan.
Serasa menjadi pembenar atas kabar.
Haru. Tetes air mata seolah ingin melaju.
Dan suara adik menyela dengan riangnya.
Kembali kabar gembira.
Dua bulan lagi dia wisuda.
Setelah gempa bumi yang hampir merenggut asanya.
Dan wajahnya kini pasti kembali ceria.
Tidak ada yang bisa terucap.
Selain puji atas Yang Kuasa.
Terima kasih Tuhan, atas segala LimpahanMu.
Dan doaku buat yang telah menghadapMu.
26 tetangga rumahku.
Dan 150 warga desaku.
Semoga arwah mereka diterima di SisiMu.
Amiien.
(Semoga Bantul bisa kembali pulih, walau tidak seperti sedia kala)
5.9.06
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

7 comments:
Dana bantuan buat bantul udah turun belum ,ya? Emang gila! Lebih baik mengandalkan kekuatan sendiri dulu daripada menunggu bantuan pemerintah yang tak menentu. Ada berita orang bantul yang pake mesin giling jagung untuk bikin runtuhan bangunan jadi material pasir. Katanya cukup kokoh. Hebat orang bantul 'mah. Salam kenal ya mas
Betul, Bung. Saatnya orang Bantul sadar: jangan pernah sekali-kali mempercayai pejabat yang obral janji. Lebih baik mandiri dan berjuang sepenuh hati. Dana belum turun sepenuhnya, jadinya warga ngamuk ke kantor bupati.
Wong mBantul memang mandiri,nunggu bantuan dari kamarintah mbalah bikin gelo...
Kayaknya sekarang udah mulai terlihat bribik-bribik mbangun rumahnya masing2 ya mas...
salut buat mereka.
ikut lega dan bersyukur...
pejabat sekarang banyak yang korup....
@larasati:
Leres Budhe Laras, wong mBantul mulai menegakkan rumah mereka kembali dengan material yang tersisa. Nunggu bantuan kamarintah cuma bikin hipertensi.
@Paman Tyo
begitulah, Paman
@Anang:
Itu namanya bergembira di atas penderitaan orang, Nang.
Kayaknya aku bukan teman yang baik, baru tau perkembangannya rumah..
ikut senang. dan lega..
Post a Comment