Hari ini, tepat satu tahun kami berada di benua kangguru. Rasanya seperti bulan kemarin saja kami meninggalkan tanah air. Perjalanan Cengkareng-Sidney dilalui tanpa kendala. Terus terang, sebagai orang kampung pinggir gunung, saat itulah pertama kali saya naik pesawat (hehehe.. udik ya?).
Tiba di Bandara Internasional Sidney, kami harus melewati antrian pemeriksaan custom yang super duper panjang, yang beberapa jam berikutnya berubah menjadi semrawut karena petugas bandara yang tidak saling koordinasi. Akhirnya kami ketinggalan penerbangan domestik ke Brisbane yang seharusnya dijadwalkan jam 9.30 waktu Sidney. Gara-gara antrian tadi, kami baru bisa berangkat jam 3.30 sore! *sigh, negara maju bisa semrawut juga ya? padahal kejadian tersebut katanya sudah sering terjadi*
Tiba di Brisbane, tim penjemputan dari kampus masih setia menanti dari pagi, kami langsung dibawa ke salah satu asrama kampus. Setelah membayar ongkos sewa, kami hanya sempat menaruh barang di kamar, setelah itu menuju ke tempat acara penyambutan yang diadakan perhimpunan mahasiswa Indo di Brisbane. Di situ kami berkumpul dengan tim yang berangkat dari Denpasar yang ternyata tidak menemui kesemrawutan di Sidney karena tiba lebih pagi, namun apesnya, seluruh bagasi mereka hilang! *akhirnya dikirimkan tengah malam oleh petugas bandara* .
Dari acara penyambutan itu kami diberitahu bahwa harga menginap di asrama terlalu mahal dibanding biaya menginap di tempat lain. Payahnya lagi, kami hanya diberi jatah 1 kali makan per hari! *tega amat* Sebagai orang Indonesia, ide kreatif segera muncul. Ketika sarapan pagi di refectory asrama, kami memenuhi tray kami dengan makanan. Lalu sebagian isi tray kami transfer ke tas ransel kami buat makan malam. Dengan cara inilah kami bertahan hidup, xixixi... :D
Ongkos menginap di asrama yang terlalu mahal dan uang dollar di kantong yang cuma beberapa lembar menjadi pemicu buat kami untuk segera menemukan unit apartemen murah. Sayangnya gaya Indonesia kami belum hilang. Beramai-ramai (sekitar 5 orang) kami menyusuri jalanan, mencari tulisan "for rent" di bangunan apartemen yang banyak ditemui di sekitar kampus. Jika ketemu, seorang teman yang sangat PD akan mengetuk salah satu unit untuk menanyakan keberadaan si pemilik apartemen, yang tentu saja tidak pernah ada.
{Di sini untuk menyewa apartemen kita harus datang ke kantor rental agent dulu, mencari unit yang available. Rental agent inilah yang menjadi perantara resmi si penyewa dengan pemilik bangunan. Dan proses dari apply unit hingga mendapat kunci bisa butuh waktu berhari-hari}.
Kami ternyata masih menggunakan gaya mencari kos-kosan di tanah air. Kegiatan ini kami lakukan dari jam 9 pagi hingga 10 malam! pokoknya harus segera dapat! biar bisa segera hengkang dari asrama. Untung saja bekal makanan di ransel cukup memadai :) Di malam hari inilah kami mulai banyak mendapat jawaban "get out!" hahaha... kami benar-benar mirip gelandangan nyari tempat tinggal.
Karena sudah berjalan terlalu jauh dari asrama dan kelelahan, kami putuskan untuk pulang naik bus. Di halte bus biasanya terdapat papan display elektronik yang menunjukkan bus jalur berapa akan tiba di halte itu jam berapa. Kami kemudian main tebak-tebakan, apakah bus akan datang on-time. Dan ternyata iya! spontan kami bersorak melihat hal baru ini (di Indo mana ada ya?). Mungkin si sopir bus yang melihat kami dalam benaknya akan berkata: "woooo... jan ndesoo!!"
Karena belum mendapat tempat tinggal juga, kami akhirnya melobi beberapa senior, agar bisa numpang di rumah mereka. Akhirnya selama sebulan penuh, kami tinggal berpindah-pindah, menumpang dari satu rumah senior ke rumah senior yang lain. Hidup nomaden tanpa pernah unpack koper. Setelah satu bulan, kami akhirnya dapat menyewa sebuah rumah dekat kampus.
Kami bersyukur, bahwa ternyata perhimpunan mahasiswa Indo di sini sangat membantu. Saya sendiri masih ingat ketika seorang senior yang diminta menjadi guide bersedia meluangkan waktunya untuk mengantar kami ke pusat perbelanjaan, ke kantor rental agent, menunjukkan tempat makan yang halal, toko yang lumayan murah, mengajak kami mencoba beberapa moda transport (dari bus, kereta hingga ferry), memberitahu bahwa untuk minta turun di halte bus harus pencet bel dulu (di Jogja saya biasanya pake uang koin yang diketuk ke kaca jendela, sambil teriak "kiri depan Pak!").
Satu hal yang terasa asing bagi kami ketika awal berada di sini adalah suasana yang mirip kota mati, sama sekali tidak ada orang lewat di pinggir jalan. Tidak ada warung angkring pinggir jalan pula :p. Restoran biasanya hanya ditemui di pusat perbelanjaan. Di situlah kami baru melihat manusia. Pemandangan seperti ini ternyata umum ditemui selama musim panas, ketika banyak mahasiswa yang memilih berlibur atau pulang kampung.
Ah, ternyata kenangan itu masih teringat jelas di kepala. Dan hari ini, giliran kami yang harus menyambut kedatangan mahasiswa baru dari Indo sekaligus menjadi guide sementara bagi mereka. Welcome to the jungle, mate!
(PS. beberapa hari lagi saya harus kembali sibuk dengan kegiatan kampus. Mohon maaf jika nantinya blog ini jadi jarang ter-update dan saya jarang berkunjung ke blog Anda.)
8.1.07
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

28 comments:
hahaha..yang pertama memang selalu mengesnakan, apapun keadaannya. jadi, akan brapa lama tinggal dsana?
hepi aniverseri mas..
jadi ingat jaman kost di yogya. kejadiannya mirip-mirip. numpang kos dsb..
hihihihi... pengalaman sing isok dicritakno anak putu suk mben mas :D Emang sampek kapan nang ostrali mas ?
neng ostrali ndak ono 'perhimpunan warteg indo..? lumayan nggo langganan cia sinambi 'nulis' lho.. nanging ojo lali habis bulan berhitung dan menabung..
Selamat bertugas, dan kunantikan selalu kunjunganmu...
Thesis po rac?
Yokel cuma mo bilang... yang lalu mang selalu indah untuk dikenang...
kita hidup dari masa lalu dan untuk masa depan yang belon pasti.
Tapi dari masa lalulah kita ada, dan untuk masa depanlah kita bertahan... dari semua itu, masa sekaranglah..kehidupan kita ini yang senyata-nyatanya...
Yokel mau daftar jadi assistance pribadi dirac, persyaratane apa?
hehehe koq welcome to the jungle..laah ndesaku opo rac? aku ini tinggal In the middle of nowhere...ke kota 1/2 jam nyopir...naek bis nunggunya nganti pegel kabeh boyok dan bokong...hiks......laah dikau di brisbane koq bilang jungle???
"selamat" setahun sudah terlewati le...semoga dikau cepet selesai sekolahnya....hihih
Selamat berjuang Dir.. MERDEKAA!! :D
yg pertama selalu susah dilupakan(apalagi yg nyimpen makanan dari tray ke ransel hehehehe).
wah..brati ultah dunk, yuhui..makan2...dobel indomie+telor
yo wis..sing sregep sekolahe..trus mengko nek wis lulus trus iso mbangun negorone..ojo malah ga gelem mulih, mergo kepenak kerjo neng luar..
met bersibuk ria Rac
@dewi:
mungkin karena konyol itu jadi berkesan, hehehe.. ah, bentar lagi juga pulang koq :)
@jt:
ya, namanya juga mahasiswa :)
@pinkina:
pasti cucunya ngakak :D pinginnya sampe tua, sayang sekali uang dikantong terbatas :p
@kawula alit:
perhimpunan warteg Indo? ya nggak ada di Brisbane, kalo di kota lain kayaknya ada.
@masayu:
tenang, aku pasti datang. siapkan saja pisgor dan teh nasgithel :)
@Yokel:
ha, pingin daftar jadi aspri? mendaftar dulu di tempat Budhe Kenny. nanti saya siapkan tempat dan waktu buat interview, xixixi...
@amethys:
kalo tempatnya Mbak Amethys itu "welcome to the forest", hehehe...
@rara:
matoer noewoen, Boenda :)
@kenny:
Budhe Kenny yang supply pisgornya ya? biar sedikit bergizi :p
@pitik:
tapi pancen penak tenan koq, tik :)
@ely:
makasih Mbak Ely. Nanti pasti kusempatkan main ke tempat Mbak Ely wis..
Rupanya masih 1 thn di sana,... (selamat2)....
Smoga sukses,... :)
wah drg sempat mudik mesti. pake ini aja kalo kangen jogja www.flashearth.com <== walau basbang :D
wahh.. asik dunk jadi senior. Mesti njuk lirak lirik freshman kie :P
ahhh...libur telah usai...ayo ke perpus lagi, itu buku-buku sudah menunggu!
Ketika sarapan pagi di refectory asrama, kami memenuhi tray kami dengan makanan. Lalu sebagian isi tray kami transfer ke tas ransel kami buat makan malam. Dengan cara inilah kami bertahan hidup, xixixi... :D Ini termasuk kategori nyolong opo nilep?
Walah...I'll be missing u Rac..hik..hikks.. Tambah jablay aku :(
Australia ki lebih banyak jungle-nya atau gurunnya, Mas? e.he.he.
Memang yang pertama itu membingungkan, istilahnya bedah peta :D
Selamat ya mas, semoga betah dan sukses.
@iko:
amieen.. makasih, Iko.
@joko:
sayangnya citra rumahku nggak bisa di-zoom :( peta yang buat Bantul memang kurang lengkap ya?
@neeya:
hehehe... ah, neeya tau aja :)
@bibisp:
hiks, padahal pinginnya liburan terus :(
@Budhe:
itu kategori survival method, xixixi.. :p
tenang, Budhe. nanti tak kancani wes..
@wd:
kalo ditengah dan barat sih banyak gurunnya. kalo bagian timur banyak hutannya :)
@hedi:
makasih Bang Hedi. Maklum, saya ini orang kampung. Jadi ya begitulah kesan pertama saya :)
jd pulang kapan le??
menarik ceritanya...
wis selamat belajar... ndang rampung kuliahnya di tunggu temen-temen diangkringan tuh. Jangan lupa cerita tentang dunia kampus.
yokel mo tanya ke budhe kenny
pake banyar gak ya...budhe?
Itulah derita awal [mencari rumah tinggal] buat kampret-kampret yang sedang merantau di negeri orang - baik bagi yang kuliah atau bekerja...
Yang jelas di Brisbane, Australia masih nyaman dan harga pun masih seusi dengan fasilitas, lain halnya di negeri Si Bau Kelek! ini, dimana antara harga [yang selangit] tapi fasilitas jongkok-pisan!
Didoakeun deh dari sini agar semuanya lancar dan betah disana..
Udah nyobain sate kangguru dong..?
Salam hangat dari Afrika Barat!
wah sama dong pengalaman pertama naik pesawat sendirian pula dan konyolnya si penjemput telat sejam ke bandara, celingukan kayak anak ilang hiks hiks
@gita:
pinginnya sih pulang sekarang, xixixi...
@dew:
pindahan ya?
@helgeduelbek:
wah, betul. dah kangen sama angkringan nih.
@luigi:
haha.. begitulah nasib diperantauan, Bang.
@arief:
untungnya aku yang njemput setia menanti :)
wekekek. tapi mungkin para bule aussie dah maklum dengan kelakuan orang indonesia kali ya...
btw, saya juga belum pernah naik pesawat dan belum pernah ke luar negeri. lebih parah dari sampeyan to?
met bersibuk ria...
Post a Comment