24.12.06

Serba Mahal

Teman satu rumah saya bertanya: barang apa, selain souvenir, yang lebih murah dibeli di Oz daripada di tanah air. Saya tidak bisa memberikan jawaban, karena saya sendiri selalu menganggap harga barang di Australia terlalu mahal jika dibandingkan dengan harga di tanah air.

Awal tahun ini saya membeli sepotong kaos putih polos untuk keperluan pentas, karena tidak membawa dari tanah air. Jika dirupiahkan harganya sekitar Rp. 70ribu. Namun sungguh, jika seharian saya menggunakan kaos itu, malamnya dipastikan saya masuk angin karena saking tipisnya. Padahal, dengan harga yang sama, saya bisa memperoleh kaos dengan kualitas yang jauh lebih baik jika beli di Malioboro. Begitu pula dengan barang elektronik, biasanya lebih mahal dari yang dijual di tanah air. Harganya baru setara ketika diadakan sale besar-besaran.

Jika dicermati, mayoritas barang di sini adalah barang impor. Hampir semua baju yang dijual di pertokoan berlabelkan Made in China, untuk sepatu berlabel Made in Vietnam, dan untuk buku tulis berlabel Made in Indonesia. Sementara barang elektronik masih didominasi produk Jepang, Jerman dan Cina. Misalkan saja produsen barang-barang ini membuka pabrik disini, dipastikan harga jual barang lebih mahal dibanding jika impor dari luar, karena ongkos buruh pabrik yang terlalu mahal.

Lalu apa yang buatan Australia? Berdasarkan pengamatan *haiyyah* logo Proudly Australian Made bisa ditemukan di makanan, minuman, buah dan sayur. Namun lagi-lagi karena harga jasa pemetik buah dan sayur yang mahal, harga dua barang terakhir ini juga tidak murah. Satu kilo apel jika dirupiahkan biasanya berharga Rp. 35ribu, sementara mangga dijual Rp. 12ribu per biji. Pisang? Rp. 90ribu per kilo! Sigh, kapan ya Paman Howard mau mengimpor pisang...?

Jika jasa yang ditawarkan memerlukan ketrampilan tertentu yang tidak dikuasai semua orang, maka harganya akan berlipat. Sebagai contoh saja kejadian yang menimpa teman saya saat dia belum lama tiba di sini. Dia menumpang tinggal di rumah senior. Suatu hari di akhir pekan ketika sendirian di rumah, dia terjebak di toilet karena daun pintu toilet yang macet tak bisa dibuka. Tanpa alat komunikasi dan tanpa adanya orang lain di rumah itu, bantuan tak bisa langsung didapat.

Beruntung si pemilik rumah tidak pergi seharian, namun teman saya sempat menginap di toilet selama 3 jam. Karena pintu yang tetap tak bisa dibuka, maka dipanggilah tukang kunci. Hanya dalam hitungan menit, pintu toilet bisa dibuka oleh sang ahli kunci. Bernapas lega tentunya, namun beberapa saat kemudian teman saya langsung lemas, karena harus membayar si tukang kunci sebesar 150 dollar Oz, yang setara Rp. 1 juta. Padahal uang sebesar itu adalah pengeluaran rata-rata mahasiswa Indo yang single di sini untuk makan satu bulan. Akhirnya teman saya itu harus mengencangkan ikat pinggang selama sebulan penuh, nasib...nasib...

33 comments:

Anonymous said...

wah..bisa buat peringatan klo masuk toilet bawa ganjelan pintu, drpd mesti puasa 1bln ;)

Anonymous said...

Biasa mas, beda standarisasi living cost. Ya akhirnya pinter² kita buat bikin program tight money policy :D

Yati said...

kalo udah gini...betapa cintanya gw ma negeri ini...meski bocor dimana2, gw masih bisa nanem2 pisang, ato buah yang laen. Gampang banget ya mo matiin org2 oz...jangan ekspor apa2 aja ke sana.

Anonymous said...

ora ngiro Oz durung mandiri, masih perlu banyak bantuan. kiro² iwak kangguru enak ra mas? :D

Anonymous said...

Beasiswanya juga dalam Aussie Dollar kan bukan Rupiah Indonesia?....hehehhehe...

Anonymous said...

mungkin untuk menghemat sda nya sendiri tuh. Jadi import terus, gak membuat polusi di negeri sendiri :D

Anonymous said...

lagi sial tuuuh! Udah kekunci di toilet, masih harus bayar satu juta $ ! Kalau tak ingin rugi, lakukan aktivitas senilai itu waktu terjebak di toilet. :D

Anonymous said...

Jadi ngeri kalau mau nyebrang ke negara tentangga ... apalagi buat saya yg dompet tipis terus... (gak pernah bawak uang). Alternatif terbaik yah kuliah nyambi jadi tukang kunci saja. Gimana?

Anonymous said...

Wah nek ngono, dadi tukang kunci ae Rac, lumayan buat nambah inkam. Ato jadi tukang metik buah, kan lebih gampang, wong tinggal metik ae kok. Lumayan gajine iso nggo tuku gedhang :))

venus said...

wik !! larangeee...:D

Anonymous said...

hidup di negeri orang membuat kita lebih mandiri , karena semua beda termasuk biaya hidup. Untuk mengatasi barang2 yang memang harganya jauh beda dgn yg ada di tanah air, saya biasa membandingkan harga2, tidak hanya di satu tempat tapi beberapa, ada kok toko2 yang menjual barang berkualitas dengan harga yang mampu dijangkau, dan kalo kita mau bersabar sedikit, dan menunggu, ada saatnya toko2 itu memberi diskon dari barang2 itu sampai sering 50 - 70 persen dari harga sebelumnya yang juga sebelumnya juga sudah bisa kita jangkau hrganya. Jadi menurut saya bandingkan harga dan bersabar menunggu itu kuncinya!

Anonymous said...

@kenny:
kalo pake ganjelan pintu sama saja nggak ditutup donk?

@hedi:
hehe.. betul Bang Hedi. Pokoknya ngirit.

@yati:
yach, itu inti tulisan saya, Mbak.

@joko:
daging kangguru? wah, belum pernah coba. Mosok habis dijawil2 trus dimakan? Nggak tega ah, ntar jadi kayak Sumanto...

@bibisp:
hihi.. iya Bibi. Cuma biasanya kan kita melakukan uji banding *haiyyah*

@neeya:
hmmm... bisa juga. Eh, koq malah kayak teori konspirasi?

@tito:
wah, aktivitas yang senilai itu apa dunk, Dok?

@helgeduelbek:
hehehe... jadi tukang kunci di sini harus punya sertifikat, Pak.

@budhe:
kalo bisa sih jadi tukang petik buah pisang. Kan bisa nilep, ups.. hihihi... :P

@venus:
begitulah... masih murah di tanah air kan?

@ely:
hmm.. betul juga sih, Mbak. Cuma kalo pas lagi kebelet ya gimana lagi.. :P

Anonymous said...

hmmmm... memang standar hidup dimana2 berbeda...
baru tau aku kalo di aussie hampir semua barang disana impor termasuk buku tulis dr indo..
apa mereka gk bs produksi sendiri, semacam elektronik, baju n buku2???

kebalikannya dgn india hampir semua barangnya produksi dalam negeri...
mereka sangat bangga akan ini!!! *masih menganut sistem swadesi dr mahatma gandhi*
jd macam brg2 elektronik (tivi,kulkas,ac,sepeda motor, mobil), buku2 n baju... yg menguasai pasaran di india adalah produk mereka sendiri..
n mereknya aneh2 gak pernah kita denger apalagi liat di indo...
misal mobil merek tata, spd motor bajaj, elektronik kebanyakan merek intex...
n kebalikannya harga tenaga kerja disini sangat murah *krn berpenduduk banyak*...

Anonymous said...

Dear mas dirac: alhamdulillah malaysia nggak jauh2 amat beda harganya dgn tanah air...Malah electronik jauh lebih murah...
Bedanya cuma dikemakmuran aja...

Anonymous said...

Kang Kombor kok nggak pernah punya keinginan sinau atau urip di luar negeri ya? Paspor aja sampe sekarang males bikin. Kalau kantor ada tugas jalan-jalan ke luar negeri, Kang Kombor minta diberikan pada orang lain yang pingin.

Anonymous said...

ya diusahakan sebelum kebelet dong! ^.^

di sini Rac, biasanya ada sale besar2an sampai 70 persen setelah summer dan winter usai, jadi 2 kali setahun

amethys said...

hehehe makanya jangan bikin standart harga rupiah dirac... wong hidup di oztrali ya dinikmati aja harga2 oz nya....tapiii klo ke kunci di WC make mbayar segitu yaaaa amit2 deh...jo ngasi gituuu

sutrisno mahardika said...

pengennya seh kuliah disana sambil kerja, ya apa aja deh, yg penting halal, tapi setelah aku baca postingan ini, trus liat komen nya, yang kalo jadi tukang kunci aja harus pake sertifikat, ya udah lah,mending di indonesia aja,

pyuriko said...

Waaahhh, mahalnya :D

Anonymous said...

itulah bedanya negara2 asia dan eropa ( australiapun kena pengaruh eropa khan/ british?), mereka lebih menghargai jasa. makanya, ga ada TKW dari aussie ataupun dari eropa or amrik, krn tenaga mereka mahal2. beda ma negara2 asia, yg udah kebanyakan penduduk, tingkat pendidikan yg ga merata, sehingga upah tenaga kerja begitu murahnya. temen yg berdiam di swedia, at least dia harus bisa menjahit baju ndiri dan bikin rumah ndiri..klo ga gitu biaya jasa juga bakalan membengkak. jadi masi untung kita khan, bawa kain ke penjahit, bayar 50rebu, beres.. *pemalas mode: on*

Anonymous said...

edian, larange pol! berarti sampeyan sugih yo mas. he..he..he..

Anonymous said...

halah tetep ae pisange nyempil jee...nek mahal iso nyambi jd tukang kunci kuwi rac dirimu..

le le aku kok kangen yo le karo kowe :P *ngabuuur*

-Fitri Mohan- said...

how i love indonesia...

Anonymous said...

@joni:
untuk produksi sendiri terlalu mahal, Bang Joni. Karena ongkos tenaga kerjanya itu.

@elly.s:
kapan ya Indonesia juga makmur? mungkin Malaysia sejak awal concern ke pendidikan, dan hasilnya dirasakan saat ini. Lha kalo Indonesia? ah, entahlah.

@Kang Kombor:
mungkin sekali-sekali harus nyoba, Kang. :)

@ely:
sama, Mbak. Di sini juga ada sale tiap akhir summer dan winter. Cuma apesnya kalau tiba di Oz pas awal winter, ya mau nggak mau beli kebutuhan pas harga tinggi, macam quilt, heater dan jaket tebal.

@amethys:
hehe.. kalo untuk makan ya mau nggak mau memang ngikut harga Oz. Cuma kalo mau beli barang koq jadi mikir berkali-kali *kecuali beli buku tentunya* :P

@trisno:
di sini mau jadi kuli bangunan pun harus ada sertifikatnya lho. yang ndak perlu cuma tukang cuci.

@pyuriko:
begitulah... :))

@dewi:
betul, kalo direnungkan, harga barang dan jasa masih murah di tanah air. Apalagi di Jogja :P

@bangsari:
haiyyah, sugih utang aku, Bang :D
kalo misalnya nggak dibayari Paklik Howard, saya ya nggak bakalan mau..

@gita:
gak punya sertifikat juru kunci. kalo tanpa sertifikat coba jadi ahli kunci, ntar dikira mantan maling :D
kangen? main ke sini wae...

@fitri:
hehe.. cuma kadang dilema ya, Mbak. Disatu sisi kita senang dengan biaya hidup yang masih relatif murah dibanding negara lain. Tapi di sisi lain koq selalu merasa nggak aman, terlalu banyak maling.

Pinkina said...

hahahahaha........lek ngunu aku tak dagang gedhang nang Oz ae mas, gak usah susah payah kerjo nang pabrik iki, lumayan kan untunge :D

Anonymous said...

mbok nyambil jualan aja mas di OZ. Bisa tak. nanti tak kirimi barangnya :)

Anonymous said...

wah..neng nggonku ga mungkin ke kunci di toilet..soale buang hajatnya di kebonan..atau di kali..koncomu nek ke kunci meneh neng toilet, manggil tukang kunci neng jakarta wae..cuma mangewu..plus ongkos angkutan pesawat jakarta-ostrali..

Anonymous said...

ide bagus tuh kang, jualan buahan atau rujak serut, rujak beubeuk, rujak potong, rujak cingur, mungkin banyak peminat dan bisa cepet kaya plus nambah devisa negara :)

Anonymous said...

makanya sodara2... kalo mo skul di luar, belajarlah jadi carpenter, tuh kerjaan bayarannya gede...

endik said...

wa.. kowe ora berpikir wirausaha dab? SUATU KESALAHAN BESAR SEBAGAI ANAK RANTAU DJIKA MUNG PASRAH TRIMANING PANDUM TANPA USAHA SEDIKITPUN...!

jajalo usaha sing unik, wong bule seneng sing aneh aneh, eling kuwi.. bener ora?
contone :
usaha ledek kethek, ngamen (karo udo), 3langkah mat, cukur pithingan ngisor wit, buruh ngadusi mayit, pijet tradisional khas indonesia sithik sithik nabung nggo modal, mbukak tong setan, warungan "jamu" rica rica kangguru (sengru, tongseng kangguru), mbukak teh poci lan roti bakar (ojo lali cewek pemikat e), warung hek wedang jahe, dsb...

tapi kabeh kuwi bali ning niat, aku trimaning kontjo isone ndukung lan ndongake..

Anonymous said...

@pinkina:
wah, cocok itu. Nanti saya yang jadi pelanggannya :D

@jt:
jadi teringat teman kampung. jualan kaos dan beras.

@pitik:
wah, lha terus untuk nunggu tukang kuncinya datang, harus nginep di toilet berapa jam?

@fiadi:
disini kalau mau jualan makanan harus mengantongi surat ijin dari dinas kesehatan. Dan harus diasuransikan.

@passya:
hehe.. boleh juga jadi carpenter. tapi ya itu tadi, jangan lupa bawa sertifikatnya.

@kawula alit:
hihi.. boleh dicoba, tak tunggu Kang kawula buka cabang disini. Nanti saya jadi manajernya wis... :D

Anonymous said...

Sumpah! Saya jadi cenge-ngesan sorangan ngebayangin temen-mu yang ke kunci di wese :D - dan harus ngebayar "ongkos ngebom" sebsar AUD 150, hm..toilet fee termahal yang pernah terdengar. :)

Mungkin esensinya dari postingan ini: belajarlah menjadi tukang kunci - jadi bila ada panggilan darurat dari kampret yang ke-kerem di wese - bisa jadi tambahan penghasilan. 50% discount-lah! :D

Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari afrika barat:)

Anonymous said...

@luigi:
hihihi... betul juga Bang Luigi. Kayaknya jadi ongkos toilet termahal di dunia... :D