16.10.06

Anda Rasis, Tuan?

Sebelum menginjakkan kaki di benua kangguru, ketika menentukan tujuan studi ke salah satu negara bagian berjuluk negeri matahari bersinar, kawan saya langsung melontarkan pertanyaan: "koq milih kesitu sich?" Saya sendiri hanya balas bertanya: "memang kenapa?" Dan terdengar jawaban spontan: "Di situ kan rasis?" RASIS??

Ya, isu rasisme menjadi salah satu poin dalam menentukan pilihan tempat studi beberapa kawan saat mengikuti pelatihan bahasa. Jumlah orang Asia yang belum sebanyak di negara bagian lain, dan munculnya partai pengusung rasisme di negara bagian tempat saya studi sekarang sudah cukup menjadikan alasan tidak masuknya negara bagian ini dalam daftar pilihan kawan tadi.
Saya sendiri mencoba obyektif, selama masih sekedar isu, maka tidak akan menjadi pertimbangan saya.

Dan waktu jua yang akhirnya menjadi pembenar atas kabar. Dilempari telur busuk, diteriaki "Go home Asian!" atau membaca coretan "kill the Asians!" di beberapa toilet kampus, seolah membuktikan ucapan kawan tadi. Hanya menyerang orang Asia? tidak juga. Beberapa teman dari Papua Nugini dan benua Afrika malah mengalami hal yang lebih parah. Apalagi warga keturunan Aborigin, si pemilik sah tanah kangguru ini.

Shock, merasa terancam, merasa tidak nyaman, ingin segera pulang, segera saja mengisi benak saya. Bahkan saking paranoidnya saya dan beberapa teman di sini, ada kejadian lucu yang menimpa seorang kawan. Suatu pagi dia mendapati kotak suratnya berisi sebuah amplop tanpa alamat tujuan ataupun pengirim. "Surat-kaleng" adalah frase pertama yang nongol di benaknya. Dan beberapa hari dia tidak berani menyentuhnya, takut membaca ancaman. Ketika bertemu saya, dia minta saya ikut membantu membuka surat itu, dan ternyata .... lembaran iklan :D. Kami juga mencoba selalu bergerombol apabila hendak bepergian ke tempat yang belum pernah kami singgahi. Bepergian sendirian hanya menimbulkan rasa khawatir berlebih.

Seiring berjalannya waktu dan beberapa kejadian yang berulang membuat kami terbiasa terhadap kasus tersebut, seolah hal yang lumrah. Apalagi setelah tahu kalau kasus itu juga muncul di tempat lain. Bahkan klimaks kasus rasisme dalam kampus beberapa tahun sebelumnya justru muncul di negara bagian lain. Rasisme memang bisa muncul di semua tempat, di semua negara, bahkan di Indonesia sendiri. Atau, jangan-jangan Anda sendiri juga mengidap penyakit tersebut. Masih ingat kasus Sambas? Kerusuhan mid Mei di Jakarta? Dan setumpuk kasus lainnya yang sebenarnya dipicu oleh kebencian atas perbedaan warna kulit, bentuk tubuh, bahasa bahkan agama.

Bagi yang sedari kecil tumbuh dan besar di lingkungan yang homogen, tentu penyakit ini gampang sekali hinggap. Ketika bertemu dengan "mereka-yang-berbeda", maka rasa cemas, tidak nyaman dan rasa terancam akan mudah sekali berubah menjadi kebencian. Akankah penyakit ini bisa disembuhkan? Sekedar hipotesis saya: biasakan berada di lingkungan heterogen. Ketika Anda terbiasa berinteraksi dengan "mereka-yang-berbeda", maka penyakit ini kemungkinan sulit hinggap. Setidaknya itu yang saya amati pada orang Oz disini. Mereka yang terbiasa melancong ke negara Asia, masih merasa enjoy berinteraksi dengan kami. Namun tidak bagi mereka yang seumur hidup hanya berinteraksi dengan orang Eropa, dan belum pernah menginjak tanah lain. Bagaimana dengan pengalaman Anda??

17 comments:

Larasati said...

walah..ditempatku yg sama2 asia tenggara aja juga rasis kok...kadang2 sebel jugak..

Anonymous said...

itulah anehnya.. tuhan bukannya menciptakan manusia itu berbeda supaya saling memperkaya? ah, manusia..

mpokb said...

yg aye tahu sih, adanya cara pandang atau sikap seperti itu bukan bawaan lahir. keluarga, lingkungan, bahkan pemerintah ikut bertanggung jawab membentuk seseorang. pertikaian hanya terjadi jika benih kebencian atau kecurigaan itu dibiarkan tumbuh, bahkan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu..

Anonymous said...

dulu waktu mau menetap di jerman, saya diwanti2 sama temanku yg dari london, katanya disana rasis sekali, weleh..dibuktikan dulu baru boleh percaya!. Ternyata setelah hidup di sini saya merasa lebih dihargai sebagai manusia daripada hidup di kampung saya sendiri. Orang2nya sopan, nggak suka ngusik2, ramah, suka mbantu, dan yang paling penting rasa aman tinggal disini itu yang nggak bisa dibeli dengan uang.

Anonymous said...

seperti katak dalam tempurung...bukan begitu mister ?

Anonymous said...

Tak pernah merasakan perasaan terancam sebagai minoritas kadang2 gawat. Apalagi kalau lingkungannya sudah biasa memandang remeh ras atau agama lain.

Bangsari said...

kebanyak orang Australia yang rasis itu kan menganggap dirinya eropa tulen. sementara orang eropa menganggapa mereka sebagai Eropa berkualitas Asia. makanya mereka kesal dan menajdi rasis terhadapa orang asia.

kira-kira betul ngga ya?

Anonymous said...

@larasati:
itu namanya jeruk makan jeruk, Budhe.

@dewi:
manusia kan sukanya mempermiskin...

@mpokb:
betul, Mpok. Rasisme itu diciptakan, bukan bakat alam.

@ely:
yang di London kayaknya juga pada rasis, Mbak Ely.

@yoyok:
Good point, Bang Yoyok.

@tito:
selama belum merasakan jadi minoritas, ndak bakalan mau mengerti dech.

@bangsari:
Analisis jitu, Bang Ipoul. Malah orang Eropa menganggap mereka turunan kriminil buangan.

Anonymous said...

ah di sini jugah. minoritas sering dibejek bejek ama yg ngrasa mayoritas

Anonymous said...

anda rasis,tuan?
bukan, saya pitik, mas

Anonymous said...

@tukang kebon:
karena mayoritas merasa jadi penguasa, dan minoritas dijadikan yang dikuasai.

@pitik:
pitik ras atau pitik buras??

amethys said...

rasism itu di mana2....sekecil apapun pasti ada, aku juga ngerasa koq sebagai kaum minoritas, di tempat kerja ku kayanya terasa sekali, tapi ga di pergaulanku se hari2 ( maksudku sama tetangga2 ku), pokoknya jangan sampai aja aku ikutan rasis gitu

Anonymous said...

Rasis, biasanya diawali oleh rasa tersaingi, tidak bisa kompeten untuk sama-sama exist dalam satu lingkungan, maka alasan bela diri yang paling picik ya keluarlah tindak-perilaku rasis.

Anonymous said...

simbah anti rasis. hanya saja kadang ada segolongan ras tertentu yang karena kelakuannya njijiki dan hampir seluruh ras itu begitu, simbah suka muncul ucapan yang berbau rasis... bukan rasnya yg simbah cela, tapi kelakuannya...

anti zionisme itu rasis gak ?

Anonymous said...

@amethys:
Tul, Mbak. Be open minded!

@Luigi:
Kalo di Afrika bagaimana, Bang?

@Mbah Dipo:
Kalo benci dengan aliran zionisme boleh2 saja, Mbah. Asal jangan gebyah uyah semua orang Israel itu zionist.

daku said...

Jadi inget waktu ditolak ngontrak apartemen gara2 berasal dr Indonesia. :(

Hikmahnya?
"Dikarantina" dg sesama Asia (plus imigran Itali!) bikin anak2 saya lebih jago dari emak mereka: gape ngomong pake banyak bahasa spt Vietnam, Thailand, Melayu dan bahkan Italia... gara2 sering main ma anak2 tetangga. :)

Salam kenal, Dik!

Anonymous said...

Mas, dulu saya bersama teman2 pernah jalan2 naik mobil ke Melbourne, pernah juga ke Brisbane. Waktu ke Melbourne, biasa2 aja... seperti di Sydney, malah lebih tentram lagi.. tidak terasa ada diskriminasi atau rasisme gitu.. Pokoknya enak lah di Melbourne. Begitu pula di Sydney sini.

Tapi, waktu ke Queensland.. hampir tiap hari nya selama perjalanan kami ada saja orang yang sinis banget dengan kami, ada yg ucapannya kasar banget. Yang sangat sopan dan baik si banyak juga. Tapi tetep... moso hampir tiap hari ada yg rasis gitu.

Karena diriku tinggal di Sydney, hehe... boleh ya mbela Sydney? :D :D :D

Sydney itu terkenal rasis, apalagi tahun lalu ada kasus Cronulla... tapi bukti yg kulihat lain hehe.. Diriku sendiri tidak pernah ngalami gituan.. kecuali sama teman SD ku di sini, sekitar 20 thn lalu. Dia gak mau ngasih chips dia ke aku krn dipikirnya aku orang Cina :D

Oh ya, temenku ada yg kerja di Toys R Us, cabang Moore Park NSW, padahal dia berjilbab. Dan dia tetap berjilbab ketika kerja, jadi kasir.

Terus di Supermarket tempat aku kerja, kadang temanku yang Islam, dari Turki, diolok2 sama temannya (bapak2, lebih tua)... dipanggil European kek.. atau Teroris gitu. Hahaha, tapi mereka akrab banget, suka banyol2an.

Tuh kan? Australia (dan Sydney) kadang tidak separah yg dibayangkan orang...