19.10.06

Foto-Foto Yang Tertunda

Di penghujung Ramadhan ini, adik saya mengirimkan beberapa foto lewat email. Foto-foto yang sebenarnya ingin saya lihat 4 bulan yang lalu.

Hari itu, sabtu kelabu 27 Mei 2006, gempa 6,3SR (menurut USGS) berkedalaman dangkal mengguncang kampung halaman saya. Kabar ini saya terima dari seorang teman, 3 jam setelah gempa utama jam 5.54 WIB, yang kemudian disebarkan ke beberapa teman yang juga berasal dari Jogja. Mereka mengeluh tidak dapat terhubung dengan keluarganya, karena jaringan telekomunikasi yang down. Satu-satunya sumber kami, hanya detik.com yang berita-beritanya membuat kami semakin panik. Beruntung satu jam berikutnya saya bisa terhubung dengan keluarga. Semua selamat. Rumah pun masih tegak berdiri walau hampir tanpa atap, yang ternyata menjadi salah satu dari 4 rumah yang tersisa dari sekitar 20-an rumah di RT saya.

Gempa itu telah menelan 27 nyawa tetangga saya. Kelurahan saya kehilangan 150 warganya, di tingkat kecamatan 400 warga tewas dan di tingkat kabupaten lebih dari 4 ribu nyawa melayang. Benar-benar cara praktis mengurangi kepadatan penduduk.

Sayang sekali saya hanya bisa berkomunikasi untuk hari itu saja. Selanjutnya, selama 3 minggu setelah hari itu, komunikasi sama sekali terputus. SMS terakhir yang saya terima dari adik hanya menyebutkan bahwa mereka mengungsi ke lapangan sepakbola di desa tetangga, dan bahwa mereka di guyur hujan di tengah lapangan pada malam itu.

Sejak hari itu, setiap hari saya hanya memelototi detik.com, helpjogja, mediacenter dan unosat, berharap mendapat kabar pengobat resah. Seorang teman mencoba membantu dengan meminta ibunya yang ada di Jogja utara agar menengok keluarga saya. Teman yang lain menelpon kenalannya yang seorang relawan agar menyempatkan menengok juga. Kabar dari mereka yang menjenguk tentu cukup mengobati keresahan saya. Dan saya mulai berlagak seperti detektif yang menginterograsi tersangka meminta deskripsi detail keadaan keluarga. Saya benar-benar ingin melihat gambar mereka, dan gambar rumah, dan gambar sekeliling rumah, agar saya yakin bahwa semuanya baik-baik saja. Ach... apakah saya mulai berlebih meminta? Dan tumpukan tugas yang terus mengalir menghalangi saya untuk bertatap dengan mereka.

Ternyata saya harus menunggu 4 bulan hingga keinginan itu terwujud. Foto-foto itu membuat saya terhenyak. Menguatkan kesadaran saya, bahwa apa yang saya lihat beberapa saat sebelum meninggalkan tanah air, kini akan sangat berbeda. Foto-foto ini diambil beberapa minggu lalu, bisa jadi saat ini apa yang nampak belum berubah. Ada banyak gambar yang ingin saya tunjukkan, sayang sekali tidak akan muat di ruang sempit ini.



Foto di atas adalah foto rumah tetangga di belakang rumah saya. Rumah?? Ya, sebelum gempa, di atas puing-puing itu tadinya rumah tetangga saya. Yang memiliki teras teduh dan luas tempat bermain anak-anak satu RT. Bagian dalamnya cukup longgar. Jika lebaran tiba, kerabatnya akan berkumpul di situ. Ramai sekali, karena mereka adalah keluarga besar.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka akan membangun kembali rumahnya. Apalagi rumah itu hanyalah rumah warisan. Sang suami hanyalah montir di bengkel kecil pinggir kampung, si istri juga bekerja serabutan, sekedar keluarga itu bisa makan. Setiap awal tahun ajaran, si istri akan sibuk mengutang tetangga kanan-kiri, dengan niat agar ketiga anaknya tetap mendapat pendidikan layak. Saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana mereka merayakan lebaran nanti. Apakah di bawah tenda plastik yang mulai kusut itu?



Foto di atas adalah foto rumah tetangga di depan rumah saya. Dalam ingatan saya, di situ dulu berdiri rumah yang nampak gagah. Kenangan saat saya kecil, rumah itu adalah rumah paling bagus di kampung saya. Rumah itu dihuni oleh 7 orang bersaudara yang telah yatim-piatu, yang selalu ramai karena selalu dijadikan tempat rapat remaja di kampung. Di depan pagar selalu dipenuhi sepeda motor peserta rapat. Pasca gempa seluruh penghuni rumah mencari kos-kosan di kota Jogja. Tak tahu lagi harus diapakan puing itu. Salah seorang dari mereka berusaha mendirikan rumah sederhana berdinding anyaman bambu (gedhek) di atas puing itu, sekedar untuk menaruh barang-barang yang tak bisa mereka bawa.

Dan rumah saya? Sujud syukur saya lakukan melihat kondisinya yang masih seperti dulu, saat sebelum berangkat. Hanya rekahan besar di dinding belakang yang sudah ditambal semen, dan atap yang sudah diperbaiki.



Dan masih banyak foto rumah tetangga dengan kondisi yang mengenaskan. Dan pertanyaan besar di kepala saya: bagaimana mereka akan menegakkan kembali rumah mereka? akankah terus bertahan di tenda plastik yang mulai robek dan tak berbentuk? Dan bagaimana mereka akan merayakan lebaran tahun ini? Akankah dengan hilangnya anggota keluarga, hati mereka masih terpercik rasa bahagia mendengar suara takbir bersahutan?

Bagi Anda yang saat ini sedang bekumpul dengan keluarga, sambil menyambut lebaran bersama di kampung halaman... Nikmatilah kebahagiaan itu dengan sungguh-sungguh, dan syukurilah selama masih ada. Karena bisa jadi, lebaran tahun ini adalah lebaran terakhir saat kita masih bisa berkumpul bersama...

Teriring doa buat mereka yang telah berpulang ke hadapan-Nya. Semoga arwah mereka diterima disisiNya. Dan buat mereka yang sedang berjuang untuk melanjutkan hidup, semoga diberi kekuatan, ketabahan dan kemudahan oleh-Nya.

9 comments:

Anonymous said...

itu foto diambil kapan? setelah gempa.. atau deket2 ini? sedih emang.. duh, alhamdulillah..lebaran ini bisa pulang.. met lebaran ya!

Anonymous said...

Ngenes aku lihat foto diatas. Nggak bisa berucap kata Dirac! Semoga apapun keadaan pemilik rumah sekarang ini, masih bisa tersenyum dalam menyambut lebaran ya..Amin.

Anonymous said...

hum aku jg smpt ngambil beberapa, wktu itu udah beberapa hari setelah...met lebaran yah, ketemu kita di yogya? :)

he eh ganti lagih, nyobain smuah leot

amethys said...

sedih aku melihat kepedihan di Yogya....semoga mereka selalu tabah...(aku juga nunut lahir di yogya...)

Bangsari said...

semoga lebaran yang dijalani dengan kesederhanaan membawa hikmah yang jauh lebih besar. amin.

selamat berlebaran, mohon maaf atas segala komen yang kurang berkenan...

amethys said...

lupa bilang...selamat riyaya....:)

Larasati said...

Sekarang udah nggak separah itu, mereka udah bangkit dengan membangun rumah sederhana yang seadanya. Tapi hebatnya mereka nggak nglokro, sumeleh dan tetap ceria menyambut hari depan termasuk dalam menyambut lebaran

Selamat Idul Fitri Dirac, maaf lahir batin jika ada sale-sale kata...

Anonymous said...

@dewi:
Foto-fotonya diambil pas bulan Ramadhan ini. Met lebaran juga.

@ely:
Semoga mereka masih bisa tersenyum. Semoga!

@gita:
Nggak bisa mudik nech...

@amethys:
Semoga mereka diberi kekuatan... Met lebaran juga.

@bangsari:
Semoga semua ada hikmahnya, Bang.

@larasati:
Sayangnya nggak semua, Budhe. Maaf lahir bathin juga, Budhe.

Unknown said...

miris sekali tapi itulah ehidupan
Prediksi Bola