Pakai kaos oblong, celana pendek, sandal jepit, dan sebuah buku tulis di tangan. Itulah tipikal penampilan mahasiswa Oz di kampus saya. Setidaknya, itu yang banyak saya lihat di seputaran Engineering Library. Dosen saya juga tidak kalah seru. Kalau masuk kelas bergaya seperti si mahasiswa tadi, malah ditambah aksesori tali buat kalung di leher. Kalau dipikir-pikir, gaya ini hampir mirip temen-temen saya waktu SMP dulu yang ke sekolah hanya berbekal sebuah buku tulis yang digulung terus di selipkan di pinggang. Lalu apa orang Oz ini sama-sama nggak niat sekolah? kayak temen saya waktu SMP? belum tentu juga. Bisa jadi cuma ngikut mode.
Dulu sebelum berangkat ke Oz, beberapa teman yang baru kembali ke tanah air sering cerita bahwa orang Oz itu kalah pintar sama orang Asia, terutama dalam hal matematik. Teman saya yang nyambi ngajar matematik di sini pun sering mengatakan hal yang sama. Ach, apa iya? Ternyata nggak juga koq. Setidaknya di jurusan saya, sering saya bertemu mahasiswa-mahasiswa pintar. Penampilannya pun berbeda dengan mahasiswa yang tadi. Selalu bawa tas ransel yang nampaknya penuh dengan kertas catatan.
Berdasarkan pengamatan saya, mahasiswa di sini sangat menguasai konsep dasar. Kalau temen saya yang mendangkali ilmu lain bilang, orang Oz ini sedikit tahu tapi banyak mengerti, sedangkan kita orang Indo banyak tahu sedikit mengerti. Dia memberi contoh: di tanah air sering teman yang dijuluki computer geek itu rata-rata bisa apa saja dengan komputernya, mau programming? bikin web? database? photoshop? tinggal sebut. Sementara orang sini lebih sempit, kalau bisa programming nggak bisa photoshop. Kalau bisa photoshop nggak bisa database ... tapi benar-benar professional di bidangnya!
Ngomong-omong soal banyak mengerti ini, saya jadi teringat percakapan dengan teman kelas saya semester lalu ketika ada tugas dari dosen:
wong Oz : Hei, sudah selesai mengerjakan assignment elektromagnet?
wong nDeso: Oh, sudah aku kumpul.
wong Oz : Lho, bagaimana bisa? memang nomor terakhir bisa kamu pecahkan?
wong nDeso: Bisa, diintegralkan saja sepotong demi sepotong.
wong Oz : Lho, kan fungsinya singuler, kalau diintegralkan jadi tidak masuk akal donk?
Saya memang tidak bisa kasih jawaban balik. Memang fungsinya singuler pada titik nol, tapi dalam hitungan saya hasil akhirnya tetap angka berhingga. Yang membuat saya kagum, mereka ini ternyata faham betul dengan konsep dasar menghitung sebelum mulai menghitung. Sementara saya memilih asal hajar dan lihat akibat belakangan. Kalau hasil akhir tidak sesuai logika, baru saya cari metode lain. Lalu apakah saya salah? Ternyata tidak juga. Jawaban saya dinyatakan benar sempurna oleh si dosen. Dan memang solusinya hanya melalui integral itu.
Kadang saya merenung, jangan-jangan saya ini produk salah didik selama sekolah dulu. Sepertinya memang ada perbedaan gaya berpikir mahasiswa dari asia dengan mahasiswa dari sini. Dan menurut saya itu dimulai dari bangku sekolah dasar. Teman saya yang membawa juniornya ke sini cerita, bahwa anaknya yang masuk kelas satu SD di sini sudah disuruh presentasi di depan kelas, dan selalu diminta mempertanyakan segala hal. Alhasil si kecil ini hobi presentasi di depan orang tuanya dan hobi nanya! Sampai orang tuanya kewalahan. Seingat saya waktu sekolah dulu, saya disuruh menghafal kalau DPR itu singkatan dari Dewan Perwakilan Rakyat. Kalau DPR itu isinya lima ratus wakil rakyat. Dan nggak boleh nanya, mengapa harus lima ratus? kan bikin bangkrut negara ? ... (husss!!!)
5.10.06
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

10 comments:
hahaha. nggak bakalan nyambung deh kalau acaranya membandingkan pendidikan disono dan disini. jauh.
selamat berakhir pekan ya :)
emang smpi skrg masih 500 anggota DPR? LOL. pantesan bangkrut bener
emang anak2 indo yang sekolah diluar biasanya matematiknya bagus, tapi pertama-tama pasti kaget dengan project yg bertumpuk-tumpuk.
matematika nek menurut koncoku matek-matek-an...ngerjainnya sampe matek tenan..wah
mungkin karena kurikulum di indonesia yg terlalu berat. terlalu banyak yg harus dipelajari dan lantaran kejar target akhirnya cuma nyangkut setengah2.. kebiasaan yg terbawa sampai saat kuliah, menghafal soal untuk ujian.. :P
Wah, nggak ngerti kamu ngomongin apaan sama si bule itu, rac. Kok angel tenan.
bahasa langit kih.. mumet, wong ngarit kayak simbah ini gak nyambung... :D
do'oh dari pada disuruh ngerjain matematika mending di suruh ngapal sejarah 1 buke deh.. ampun..ampun..
@all:
Thanks for the comments.
@Mbah Dipo and Tito:
Bahasa kahyangan??
Auk..ah.. gelap! yg tahu kok banyak bener DPR itu lho.. terus ngapain aja..minta mobilnya gak mau yang murah lagee.. :)
Post a Comment