28.10.06

Lebaran di Negri Sebrang

Lebaran tahun ini bagi saya memang terasa berbeda. Tidak ada suara takbir di malam lebaran. Tidak ada acara sungkem ke ibu-bapak dan kemudian diteruskan ke tetangga sekitar. Dan tidak ada opor ayam plus ketupat :). Sungkem via telepon (kita sebut saja TeleSungkem) sudah saya lakukan beberapa hari sebelum lebaran. Takut server operator telepon di kampung overload lagi. Plus titip salam buat tetangga sekitar yang masih berjuang untuk kembali hidup.

Sholat Ied di sini dilakukan di lapangan bola milik kampus, yang difasilitasi oleh perhimpunan mahasiswa muslim. Selesai sholat dan khutbah dilanjutkan saling berjabat tangan dan saling bermaaf-maafan dengan teman-teman dari Indonesia dan dari negara lain (Malaysia paling banyak). Kemudian ... kembali ke kelas karena ada kuliah disusul lembur praktikum di lab hingga malam! Apa mau dikata, lebaran disini bukan berarti hari libur. Kegiatan harus berjalan seperti biasa. Dan malamnya, di hari yang fitri itu, harus saya rayakan dengan ... Mie Instant!! (halah!).

Yach, tidak ada yang menarik memang dengan acara lebaran di sini. Tapi di hari itu ada yang aneh dengan diri saya. Selepas sholat Ied, saya merasakan excitement seperti saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus. Saya seperti baru melihat gedung-gedung itu. Keramaian mahasiswa itu. Dan ... ach entahlah. Sepertinya tidak bisa dideskripsikan dengan untaian kata. Hari itu memang ada rasa yang tidak biasa. Bagaimana dengan lebaran Anda?

update:
Tahun ini memang lebaran sangat berbeda. Terutama bagi mereka.

6 comments:

amethys said...

lebaranku acaranya sholat, memang seh aku masak2 sama sobatku....dan kami makan berdua, trusss jalan2...parkir di depan shelter liat bule2 homeless jadinya aku bersyukur banget bahwa hidupku ini masih sangat baik dibanding sama bule2 homeless...(tambah mensyukuri apa2 yg ada)

Anonymous said...

beberapa kawanku malah ada yg lagi presentasi pas lebaran :D

Anonymous said...

Bagusnya lebaran dirayakan bersama orang2 tercinta.

Daripada melihat ke atas, lebih baik melihat ke bawah , ke orang2 yang kurang beruntung dibandingkan kita, membuat kita lebih mensyukuri hidup ini, dan menjauhkan dari rasa ketidakpuasan. kekurangan terus menerus.

Bangsari said...

lebaran di kampung kurang meriah nih. ngga banyak petasan lagi semenjak amrozi ngebom bali. apalagi krisis ngga juga ilang, kampung lumayan semarak tapi belum seperti beberapa tahun yang lalu.

selamat lebaran mas. mohon maaf lahir batin....

Anonymous said...

sedih memang sih klo lebaran ga kumpul keluarga, tp lebh sedih lg klo ga bisa ngerayain lebaran kan?

mending telat drpd ngga, maaf lahir batin yah

Anonymous said...

@amethys:
betul, selalu bersyukur.

@siberia:
itulah nuansa lebaran di negri sebrang

@ely:
betul, mbak Ely. Terima kasih atas pencerahannya.

@bangsari:
wah, kangen petasan? katanya dilarang?

@gita:
nice words, thanks.